SAVE AQSO FREE PALESTINE
(“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al Hujuraat 10])
SAVE AQSO FREE PALESTINE
(Pnjajahan Di Atas Dunia Harus Dihapuskan Karena Tidak Sesuai Dengan Perikemanusiaan Dan Perikeadilan)
RUMAH GADANG
(Gonjong Ijuak Basalimuik Kabuik Di Lembah Harau Kabupaten Lima Puluh Kota)
SANG PROKLAMATOR
("Bebas Artinya Menentukan Jalan Sendiri, Tidak terpengaruh Oleh Pihak Manapun, Sedangkan Aktif Artinya Menuju Perdamaian Dunia dan Bersahabat Dengan Segala Bangsa" BUNG HATTA)
JAM GADANG BUKITTINGGI
(Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS 3:133-134))
LANDASAN MENIKAH
Ulama Berkulit Domba Berhati Buas
Seperti serigala yang mengendap di malam kelam
Kalian kuasai dunia dengan Madzhab Malik
Kalian bagi-bagi uang dengan Ibnu Qosim
Kalian kendarai kemewahan Bighol dengan Asyhab
Dan dengan Ashbagh kalian warnai dunia untuk kalian
Para ahli ilmu hari itu di Andalus bermadzhab Maliki. Atas nama ilmu, mereka menguasai dunia. Mengumpulkan uang, mengendarai kendaraan mewah dan memonopoli warna keadaan dengan dalih kitab-kitab Ibnu Qosim, Asyhab dan Ashbagh, para ulama besar madzhab Maliki.
“Tak diragukan, bahwa hidupnya umat ini dengan hidupnya para ulama. Merekalah mahkota umat dan menaranya. Merekalah ruh dan sumber kehidupannya.
SUNGGUH, JIKA ANDA MEMBACA ARTIKEL KALI INI, ANDA AKAN BERKATA, "MASYA ALLAH, LUARRR BIASAAAA............!!!!!!!!
Sariaklaweh.blogspot.com:--Ibnu 'Amr Ad Dimakiy dari ustadz 'Abdullah Zaidi bercerita kepadaku..."Anta tau tidak kalau ada satu suku yang sangat disegani oleh masyaikh saudi, namun berasal dari luar As Su'udiyyah?"
"Pernah dengar Mauritaniyyah?"
"Belum ustadz, kenapa mereka disegani ustadz?"
"Karena kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu yang sangat luar biasa... Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum hafal qur'an itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya... Bahkan 7 dari 13 doktor di MEDIU berasal dari Mauritaniyyah."
Anak-anak suku Mauritania menunjukkan catatannya
yang ditulis di kayu "Lawhah"
"Masya Allah, bagaimana sistem pengajaran mereka...???
"Pertanyaan anta jamil... memang kita bukan hanya harus takjub, tapi kita harus meniru sistem yang mereka gunakan. jadi begini akhi...
Mereka itu mendapatkan pendidikan Al Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak BAYI...
Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu HANYA tidur di kasur. ibu tersebut akan MENYIBUKKAN DIRI untuk MUROJA'AH HAFALANNYA hingga ibu itu TERASA LETIH karenanya...
Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah. Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka DIWAJIBKAN untuk dia muroja'ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya ya itulah tantangan untuk anak tersebut..."
"Masya Allah, lalu sistem ketika menginjak remaja gimana ustadz?"
"Ahsanta, ketika mereka berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. mereka TIDAK BELAJAR DI DALAM KELAS. Jadi para masyaikh setempat MEMBUAT TENDA DI TENGAH GURUN, dan di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan... Mungkin dalam fikiran kita menyakitkan karena panasnya. namun itu NIKMAT untuk mereka karena RASA INGIN TAU YANG TINGGI pada diri mereka menjadikan SEDIKIT 'ILMU adalah NIKMAT DAN RIZQI YANG MELIMPAH UNTUK MEREKA, BUKAN HARTA...!!!"
"Masya Allah... Masya Allah Yaa Ustadz..."
"Na'am, ketika syaikh tersebut berkata, "ISTAMI'...!!!", maka semuanya menatap syaikh tersebut dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan BERMAIN PULPEN, karena akan dimarahi...
Setelah syaikhnya menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis. Mereka menulispun juga BUKAN di selembar kertas. Mereka menulis di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah, kenapa tidak pakai kertas? karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa selembar saja...
Setelah mereka menulis maka tulisan mereka yang berasal dari ingatan mer
Masya Allah... Ketika semua santrinya telah menuliskan dengan benar maka syaikh memerintahkan untuk dihapus..."
"Dihapus ustadz...??? Lalu mereka tidak punya catatan pelajaran hari itu dong?"
"Laa yaa akhi, ketika semuanya sudah benar itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh syaikh sudah HAFAL DI LUAR KEPALA. Jadi catatan mereka ya ingatan mereka itu... Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka syaikh melanjutkan pelajarannya... Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang mereka INGAT mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka...
Di usia 17 tahun, mereka sudah bisa mengeluarkan fatwa, yang berarti mereka sudah menjadi MUFTI..."
Belajar dengan hafalan dan mencatat di kayu
"Masya Allah, merinding ana ustadz..."
"Jamil... Dulu ketika ana di LIPIA ada cerita menarik, dosen ana ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2, karena apa?
Karena ikhwan ini sudah hafal kutubus sittah, bulughul marom, shohihain, dan sekarang sedang menghafal musnad imam ahmad dan sudah hafal 2/3 nya... Anta tau kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa??? itu hanya masih tebalnya, belum isi dari kitab tersebut... BERAPA BANYAK HADITS YANG TERDAPAT DI KITAB ITU? Masya Allah.
Dan yang akan lebih mengherankan anta adalah, MEREKA BUKAN HANYA HAFAL MATAN HADITSNYA... NAMUN SAMPAI KE RIJALUL HADITS, PERAWI INI LAHIR TAHUN SEKIAN, MENINGGAL TAHUN SEKIAN, MENGAMBIL HADITS DARI SIAPA SAJA, DINYATAKAN TSIQAH ATAU TIDAK OLEH 'ULAMA, HINGGA DIA BISA MENENTUKAN SENDIRI SANAD HADITS TERSEBUT SHAHIH ATAU TIDAK TANPA MENCATUT PERKATAAN SEORANG MUHADDITS SEPERTI SYAIKH ALBANI KALAU HADITS TERSEBUT SHAHIH..."
"Masya Allah, merasa tidak punya apa-apa ustadz ketika menyadari di belahan bumi lain ada yang mempelajari agama hingga seperti itu..."
"Na'am, ana pun demikian... kalau anta ingat, USTADZ ERWANDI TARMIDZI pernah bilang seperti ini : "Janganlah kalian bangga ketika sudah hafal al qur'an, karena memang itu belum ada apa-apanya di kalangan penuntut 'ilmu, dan janganlah kalian bangga ketika sudah hafal hadits arbain, karena itu sudah sangat lazim di kalangan penuntut 'ilmu, janganlah kalian menjadi sombong dengan sedikitnya 'ilmu yang kalian miliki... karena bukannya 'ilmu itu akan bertambah malah bisa jadi akan berkurang. hafal qur'an hanyalah pintu untuk antum memasuki dunia para 'ulama, hadits arbain hanyalah dasar pijakan pertama antum memasuki dunia para 'ulama, namun kalian belum pantas disebut 'ulama..."

Perpustakaan kuno di Syinqith (Chinguetti)
"Masya Allah, banyak faidah dari obrolan ini ustadz..."
"Jamil, makna dari zuhud itu apa? Al Faqir Wal Masakin kah? Atau seperti apa menurut anta?"
"Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang ditanya ustadz..."
"Ahsanta, Barakallahu fiik, zuhud adalah ketika kita mampu meninggalkan apa-apa saja yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, al mislu: nonton YKS bermanfaat tidak untuk kehidupan akhirat kita?"
"Tidak ustadz."
"Jamil, maka tinggalkanlah hal yang serupa dengan itu dalam urusan duniawi kita kalau tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita... Itulah zuhud."
"Ahsanta, lalu kenapa 'ulama dari mauritaniyyah tidak terkenal ustadz?"
"Karena kebiasaan mereka... Mereka lebih disibukkan untuk belajar dan mengajar. Tidak ada yang namanya safari dakwah atau khuruj ke suatu tempat dan yang semisalnya... Kalau kita butuh beliau, ya kita yang mengunjungi beliau... Sebenarnya banyak 'ulama dari mauritaniyyah, coba saja cari 'ulama yang berakhiran "ASY SYINQITHI". Mereka adalah hasil didikan adat menuntut 'ilmu ala mauritaniyyah..."
"Syukran atas tadzkirahnya ustadz."
"'Afwan, sebenarnya ana juga sedang muhasabah diri, kalau diri kita belum dididik dengan sistem seperti itu, berarti tugas kita untuk mendidik anak cucu kita dengan sistem yang mereka miliki..."
Ulama Ahlus sunnah Sheikh Abdullah Bin Bayyah – Mauritania,
salah satu pengajar di Universitas King Abdu l Aziz University – Saudi Arabia,
beliau bermazhab Maliki
sumber Nafas Diri
FP: Media Dakwah
BERHAJI TAMPA PAHALA
“Berapa banyak yang Anda sediakan untuk bekal?” tanya Bisyr.
“Dua ribu dirham.”
“Apa yang menjadi tujuan Anda berangkat haji kali ini? Apakah karena zuhud terhadap dunia, atau untuk melepas kerinduan kepada Baitullah, ataukah demi meraih keridhaan-Nya?”
“Demi meraih ridha Allah,” kata laki-laki itu mantap.
“Sekiranya Anda dapat meraih keridhaan Allah, sementara Anda tetap tingal di rumah Anda, dengan menginfakkan dua ribu dirham, dan Anda merasa yakin akan meraihnya, apakah Anda bersedia melakukannya?” tanya Bisyr.
“Ya.”
“Kalau begitu, pergilah dan berikanlah uang Anda itu untuk menolong sepuluh jiwa; seorang yang terbebani hutang, agar ia membayar hutangnya dengan harta yang engkau berikan; seorang miskin, agar ia dapat memperbaiki keadaannya; seorang kepala keluarga yang dibebani banyak anak; dan seorang pengasuh anak yatim, agar dapat menggembirakan si yatim yang diasuhnya. Sekiranya hati Anda cukup kuat untuk memberikan uang itu kepada satu orang saja di antara mereka, lakukanlah! Sungguh, perbuatan Anda mendatangkan kegembiraan di hati seorang Muslim, menolong orang yang dalam penderitaan, membantunya keluar dari kesusahannya dan menolong orang yang lemah; semua itu jauh lebih utama daripada ibadah haji seratus kali, setelah hajjatul Islam (haji yang diwajibkan sekali seumur hidup).”
Bisyr Ibn al-Harits kemudian berkata, “Kini pergilah dan infakkanlah uang bekal Anda itu, sebagaimana telah kuperintahkan kepada Anda. Atau, kalau tidak, ungkapkanlah isi hati Anda sekarang juga!”
Laki-laki itu termenung sebentar, lalu berkata, “Wahai Abu Nashr (nama panggilan Bisyr Ibn al-Harits), niat kepergianku berhaji tetap lebih kuat dalam hatiku.”
Mendengar jawaban itu, Bisyr (rahimahullah) tersenyum dan berkata kepadanya, “Memang, apabila harta diperoleh melalui kotoran perdagangan atau syubhat, tertariklah hati untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dengan menampakkan dan menonjolkan amal-amal saleh (agar dapat diketahui oleh orang banyak). Sedangkan Allah Swt telah bersumpah demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia tidak akan menerima amalan selain amalan orang-orang yang bertakwa.”
Seperti laki-laki yang datang menemui Bisyr Ibn al-Harits, banyak di antara kita yang berulang kali menunaikan ibadah haji setelah hajjatul-Islam. Mereka berangkat haji bukanlah karena mencari ridha Allah, tetapi hanya untuk mengobati jiwanya yang gersang. Mereka ingin mendapatkan pengalaman eksotis dengan menangis di tanah suci, lalu mengira bahwa yang demikian itu merupakan pencerahan ruhani. Mereka menghabiskan uang yang sangat besar jumlahnya, sementara banyak urusan kaum Muslimin yang tidak bisa berjalan karena tak ada dana yang bisa menopang.
Lebih mengenaskan lagi, ada yang menunaikan hajjatul-Islam, tetapi sebenarnya mereka belum terkenai kewajiban. Mereka berangkat ke Tanah Suci, tetapi tangannya terkotori oleh harta yang sebenarnya merupakan hak dari orang-orang yang menjadi tanggungannya, misalnya orangtuanya yang miskin. Alhasil, ia berangkat ke Tanah Suci dengan airmata. Bukan karena haru, tetapi airmata kesedihan pengantarnya karena ada yang terbengkalai, tidak terurusi. Mereka inilah yang menangis di Tanah Suci, tetapi kembali dengan jiwa yang gersang dan hati yang kosong.
Saya teringat dengan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Shahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini pernah berkata, “Di akhir zaman akan bertambah banyak orang yang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka, dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh ontanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan.”
*****
Semoga renungan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon ampun. Dan kepada saudara-saudaraku seiman, saya memohon nasehat.
Selebihnya, saya tetap perlu mengingatkan agar tidak mudah pula menuding mereka yang berhaji untuk kesekian kali sebagai perjalanan yang sia-sia. Andaikata ada di antara tetangga kita yang tak peduli pada urusan ummat ini, bahkan tak mau berbagi kepada tetangganya, sesungguhnya ia memiliki hak atas kita untuk kita ingatkan dan kita beri nasehat. Di luar itu, ada orang-orang yang berulang kali melakukan perjalanan ‘ibadah haji, dan ia pun banyak membelanjakan hartanya untuk menegakkan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi, membiayai proyek-proyek amal shalih dan menyantuni fakir miskin. Maka kita do’akan ia semoga Allah Ta’ala menerima ‘ibadah dan amal shalihnya. Allahumma amin.
Wallahu a'lam bish-shawab. Wallahul musta'an.
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
Carilah Barokah, Bukan Sekedar Mesra
Apakah yang paling penting untuk kita cari dalam pernikahan? Dialah barakah. Hadirnya barakah menjadikan pernikahan berlimpah kebaikan. Barakah itu pula yang perlu senantiasa kita jaga dalam pernikahan. Hilang barakah, hilanglah kebaikan atas apa yang ada dalam pernikahan.
Bagaimanakah kita menjaganya? Menjaga, menata dan memperbaiki niat yang darinya mempengaruhi tujuan pernikahan serta menjaga diri. Pada saat yang sama kita menjaga dari memimpikan hal yang tidak penting. Pergi ke luar negeri tak perlu jadi obsesi sehingga segala daya dikerahkan hanya untuk berkunjung ke negeri orang. Hanya tiga tempat yang layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk mendatanginya, yakni Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di luar itu, jika memang ada rezeki atau memang ada keperluan, negeri seberang yang berbatasan ataupun yang berbeda benua, bukanlah tempat yang terlalu jauh.
Terlarang mengunjungi negeri-negeri yang berbeda? Tidak. Terlarang mengingini bepergian ke negeri lain? Juga tidak. Terlebih jika ada manfaatnya atau dalam rangka amal shalih. Tetapi janganlah ia menjadi obsesi dan hal paling membanggakan.
Sesungguhnya perusak agama itu cuma dua, yakni fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Maka, dua hal itu pula yang perlu kita jauhi. Apa hubungan fitnah syubhat dan syahwat dengan menjaga barakah dalam pernikahan? Fitnah syahwat melalaikan tujuan sehingga niat keruh.
Belasan atau puluhan tahun menikah pun, kita perlu senantiasa menjaga niat memperbaiki tujuan (O Allah, jaga pernikahan kami dan selamatkanlah dari fitnah).
Jika fitnah syahwat sudah menerpa, awalnya mungkin hanya soal harta atau kuasa, tapi ia dikejar karena tergila padanya, maka tak aneh jika ia berubah menjadi mudah tergoda oleh rupa. Awalnya nikah karena dakwah, lalu runtuh begitu saja (semoga kita terhindar darinya).
Sangat berbeda seseorang yang melangkah karena alasan agama (cerai, pisah sesaat atau pun menikah lagi) dengan yang disebabkan fitnah syahwat. Jika karena sebab syahwat dunia seseorang berpaling dari istri yang ia nikahi sungguh-sungguh karena alasan agama, maka bukan aneh keburukan mendekat kepadanya sementara kebaikan semakin sulit ia raih. Inilah yang perlu kita khawatiri dalam pernikahan.
Bagaimana dengan fitnah syubhat? Ia menghancurkan pemikiran, keyakinan, iman dan bahkan aqidah. Ini pun turut mempengaruhi pernikahan.
DAKWAH KREATIF KOMIK OM HAJI
sumber: facebook
KUMPULAN ARTIKEL RAMADHAN
Renungan Ramadhan
- Persiapan Menyambut Ramadhan
- Berbenah Diri Menyambut Bulan Ramadhan
- Persiapkan Diri Menyambut Ramadhan
- Bersiap Menyambut Ramadhan
- Nasehat Syaikh Shalih Al Fauzan Dalam Menyambut Ramadhan
- Ilmu yang Mesti Diketahui Sebelum Ramadhan
- Hikmah di Balik Puasa Ramadhan
- Puasa Demi Menggapai Ridho Ilahi
- Keutamaan Puasa
- Keutamaan Bulan Ramadhan
- Keagungan Puasa Ramadhan
- Saudaraku, Inilah Keutamaan Puasa Ramadhan
- Puasa Karena Iman dan Ikhlas
- Antara Puasa Dan Tauhid
- Bulan Yang Dinantikan
- Merasakan Indahnya Ramadhan
- Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (1)
- Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (2)
- Ganjaran untuk Orang yang Berpuasa
- Janganlah Buat Puasamu Sia-Sia
- Peringatan Bagi Orang yang Enggan Puasa
- Pelajaran dari Perang Badar
- Ramadhan Dan Perbaikan Diri
- Pelajaran Berharga di Bulan Ramadhan (1)
- Pelajaran Berharga di Bulan Ramadhan (2)
- Bulan Ramadhan Kesempatan yang Baik untuk Meninggalkan Rokok
- Memerintah Anak untuk Berpuasa
- Tafsir Surat Al Baqarah 183: “Berpuasa Menggapai Takwa”
- Tafsir Surat Al Baqarah 185
Ru’yah Hilal
- Menyoal Metode Hisab
- Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah
- Menentukan Awal Ramadhan Dengan Hilal dan Hisab
- Jika Saudi Arabia Sudah Melihat Hilal
- Metode Hisab Wujudul Hilal dan Imkanur Ru’yah
- Berpuasalah Karena Melihatnya
- Pengumuman Puasa dan Hari Raya Bukan Urusan Ormas atau Individu
- Menyikapi Perselisihan Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan
- Tunggu Keputusan Pemerintah dalam Berhari Raya dan Berpuasa
- Jika Persaksian Hilal Ditolak dalam Sidang Itsbat
- Fatwa Ramadhan: Tanda Mulai Puasa
- Fatwa Ramadhan: Hukum Menentukan Ramadhan Dengan Metode Hisab
- Fatwa Ramadhan: Hasil Ru’yah Saudi Arabia Berbeda dengan Negara Lain
- Hukum Ucapan “Selamat Memasuki Bulan Ramadhan”
Panduan Puasa
- Panduan Puasa Ramadhan
- Syarat dan Rukun Puasa
- Pembatal-Pembatal Puasa
- Mimpi Basah Ketika Puasa
- 4 Golongan yang Mendapat Keringanan Tidak Berpuasa
- Berkah dalam Makan Sahur
- Yang Dibolehkan Ketika Puasa (1)
- Yang Dibolehkan Ketika Puasa (2)
- Mari Mengamalkan Sunnah Puasa
- Fikih Puasa (1): Syarat Wajib Puasa
- Fikih Puasa (2): Rukun dan Niat Puasa
- Fikih Puasa (3): Pembatal Puasa
- Fikih Puasa (4): Pembatal Puasa
- Fikih Puasa (5): Sunnah Puasa
- Fikih Puasa (6): Hari Dilarang Puasa
- Fikih Puasa (7): Akibat Hubungan Seks di Siang Hari Ramadhan
- Fikih Puasa (8): Masih Memiliki Utang Puasa Ketika Meninggal Dunia
- Fikih Puasa (9): Yang Mendapat Keringanan Tidak Puasa
- Fikih Puasa (10): Amalan I’tikaf
- Seputar Hukum Puasa Ramadhan
- 11 Amalan Ketika Berbuka Puasa
- Lebih Afdhol Mana Antara Puasa atau Tidak bagi Wanita Hamil?
- Konsumsi Obat Penghalang Haidh Ketika Ramadhan
- Larangan Bagi Wanita Haid
- Mencium Istri, Batalkah Puasa?
- Berniat Puasa Setelah Shubuh
- Mujahid Yang Sedang Berperang Boleh Tidak Berpuasa
Panduan Tarawih
- Menghidupkan Malam Ramadhan Dengan Shalat Tarawih
- Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Tuntunan Shalat Tarawih
- Shalat Tarawih (1): Jumlah Raka’at Pilihan Nabi
- Shalat Tarawih (2): 11 atau 23 Raka’at?
- Shalat Tarawih (3): Aturan Shalat Tarawih
- Dalil Pendukung Shalat Tarawih 23 Raka’at
- Bolehkah Shalat Tarawih 11 Raka’at Padahal Imam 23 Raka’at?
- Shalat Tarawih bagi Wanita
Qadha dan Fidyah
- Permasalahan Qodho’ Puasa Ramadhan
- Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui
- Cara Penunaian Fidyah
- Meninggal Dunia, Masih Memiliki Utang Puasa
- Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang
Sedekah Di Bulan Ramadhan
- Pahala Melimpah di Balik Memberi Makan Berbuka
- Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan
- Fatwa Ramadhan: Sedekah di Bulan Ramadhan
Lailatul Qadar, I’tikaf dan Nuzulul Qur’an
- Menanti Malam 1000 Bulan
- Lailatul Qadar
- Lailatul Qadar dan I’tikaf
- 7 Keistimewaan Lailatul Qadar
- Fiqih Ringkas I’tikaf (1)
- Fiqih Ringkas I’tikaf (2)
- Fiqih Ringkas I’tikaf (3)
- Fiqih Ringkas I’tikaf (4)
- Indahnya Ramadhan Bersama Al Qur’an
- Tadabbur Al-Qur’an
- Bagaimana Kita Merayakan Nuzulul Quran?
- Ramadhan Bulan Al-Quran
- Memburu Lailatul Qadar Di Malam Tanggal Genap
- Boleh I’tikaf Di Masjid Mana Saja
- Masjid Yang Paling Utama Untuk I’tikaf
- Lailatul Qadar Terkadang Bisa Dilihat dan Dirasakan
- Malam 1000 Bulan Pasti Hadir, Tidak Perlu Sibuk Mencari Tandanya
- Bila Orang Tua Melarang I’tikaf
- Hanya Ingin I’tikaf di Malam Ganjil Saja
- Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan
Kekeliruan Seputar Ramadhan
- Hadits Palsu 30 Keutamaan Shalat Tarawih
- Amalan Khusus Menyambut Ramadhan
- 14 Amalan yang Keliru di Bulan Ramadhan
- Seputar Kesalahan di Bulan Ramadhan
- 12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan
- Hadits Lemah: Ramadhan Dibagi Tiga Bagian
- Kekeliruan Pensyariatan Waktu Imsak
- Stop Makan Ketika Adzan Shubuh Berkumandang
- Hukum Makan Ketika Adzan Shubuh
- Bermaafan Sebelum Ramadhan
- Macam-Macam Bid’ah di Bulan Ramadhan
- Hanya Shalat dan Puasa di Bulan Ramadhan
- Puasa Tetapi Tidak Shalat
- Puasa Tetapi Tidak Berjilbab
- Dahulukan Puasa Dari Kerja Yang Melelahkan
Fatawa Ramadhan
- Fatwa Ulama: Niat Puasa, Sekali Untuk Sebulan Atau Setiap Hari?
- Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan Ramadhan
- Fatwa Ramadhan: Tidur Siang Hari di Bulan Ramadhan
- Fatwa Ramadhan: Ramadhan Sudah Tiba, Masih Ada Hutang Puasa
- Fatwa Ramadhan: Sisa Makanan Yang Tersangkut Di Gigi Ketika Shalat Atau Puasa
- Fatwa Ramadhan: Malam Bermain-Main, Siang Hari Tidur
- Fatwa Ramadhan: Jadwal Imsakiyah Yang Dibagikan Di Bulan Ramadhan
- Fatwa Ramadhan: Apakah Wanita Menyusui Tetap Berpuasa?
- Fatwa Ulama: Kapan Wanita Hamil Meng-Qadha Puasa?
- Fatwa Ramadhan: Bersiwak Meninggalkan Rasa Di Mulut, Apakah Membatalkan Puasa?
- Fatwa Ulama: Apakah Orang Sedang Puasa Berkumur Dan Istinsyaq Ketika Wudhu?
- Fatwa Ramadhan: Orang Yang Batal Puasa Karena Keluar Mani, Apakah Boleh Makan?
- Fatwa Ramadhan: Memberi Makanan Berbuka Puasa Harus Langsung Atau Boleh Dengan Perantara?
- Fatwa Ramadhan: Dosakah Tidak Membaca Al Qur’an Di Bulan Ramadhan?
- Fatwa Ramadhan: Lebih Utama Umrah Di Bulan Ramadhan Atau Dzulqa’dah?
- Fatwa Ramadhan: Masuk Islam Di Siang Hari Bulan Ramadhan, Bagaimana Puasanya?
- Fatwa Ramadhan: Lailatul Isra’ Lebih Mulia Daripada Lailatul Qadar?
- Fatwa Ramadhan: Tidak Dapat Lailatul Qadar Karena Tidak Lihat Tandanya?
- Fatwa Ulama: Musafir Yang Tidak Berpuasa, Bolehkah Jima’ Di Siang Hari Ramadhan?
- Fatwa Ulama: Ketika Tertinggal Shalat Tarawih
Silsilah Kajian Ramadhan
- Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur
- Kajian Ramadhan 2: Puasa untuk Meraih Takwa
- Kajian Ramadhan 3: Puasa Karena Iman dan Mengharap Pahala
- Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah
- Kajian Ramadhan 5: Puasa Menyempitkan Jalannya Setan
- Kajian Ramadhan 6: Puasa Tetapi Masih Terus Bermaksiat
- Kajian Ramadhan 7: Dua Tingkatan Orang yang Berpuasa
- Kajian Ramadhan 8: Bertambah Semangat untuk Sedekah di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 9: Bulan Ramadhan adalah Bulan Al Qur’an
- Kajian Ramadhan 10: Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Shalat Tarawih
- Kajian Ramadhan 11: Maksud Ibadah I’tikaf
- Kajian Ramadhan 12: Kesempatan untuk Bertaubat
- Kajian Ramadhan 13: Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa
- Kajian Ramadhan 14: Nuzulul Qur’an dan Tadabbur Al Qur’an
- Kajian Ramadhan 15: I’tikaf Demi Raih Lailatul Qadar
- Kajian Ramadhan 16: Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
- Kajian Ramadhan 17: Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
- Kajian Ramadhan 18: Do’a di Malam Lailatul Qadar
- Kajian Ramadhan 19: Lailatul Qadar, Waktu Pencatatan Takdir Tahunan
- Kajian Ramadhan 20: Hikmah Penunaian Zakat Fithri
- Kajian Ramadhan 21: Memperbanyak Istighfar di Akhir Ramadhan
- Kajian Ramadhan 22: Ramadhan Mengajarkan untuk Menjauhi Maksiat
- Kajian Ramadhan 23: Di Balik Bau Mulut Orang yang Berpuasa
- Kajian Ramadhan 24: Tinggalkanlah Dusta!
- Kajian Ramadhan 25: Ramadhan Mengajarkan Lemah Lembut
- Kajian Ramadhan 26: Ramadhan Madrasah Ikhlas
- Kajian Ramadhan 27: Terbukanya Pintu Kebaikan di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 28: Ramadhan, Bulan untuk Memperbanyak Doa
- Kajian Ramadhan 29: Shalat Tarawih, Shalat Semalam Suntuk
- Kajian Ramadhan 30: Mengkhatamkan Al Quran di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 31: Jangan Remehkan Satu Kebaikan di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 32: Puasa Mengajarkan Mencintai Orang Miskin
- Kajian Ramadhan 33: Bulan Ramadhan, Bulan Sabar
- Kajian Ramadhan 34: Bulan Ramadhan, Bulan untuk Bersyukur
- Kajian Ramadhan 35: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah
- Kajian Ramadhan 36: Kesempatan Dakwah di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 37: Banyaknya Pengampunan Dosa di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 38: Bersungguh-sungguh dalam Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir
- Kajian Ramadhan 39: Hikmah I’tikaf di Bulan Ramadhan
- Kajian Ramadhan 40: Sibuk Cari Pakaian Baru di Akhir Ramadhan





















