SAVE AQSO FREE PALESTINE

(“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al Hujuraat 10])

SAVE AQSO FREE PALESTINE

(Pnjajahan Di Atas Dunia Harus Dihapuskan Karena Tidak Sesuai Dengan Perikemanusiaan Dan Perikeadilan)

RUMAH GADANG

(Gonjong Ijuak Basalimuik Kabuik Di Lembah Harau Kabupaten Lima Puluh Kota)

SANG PROKLAMATOR

("Bebas Artinya Menentukan Jalan Sendiri, Tidak terpengaruh Oleh Pihak Manapun, Sedangkan Aktif Artinya Menuju Perdamaian Dunia dan Bersahabat Dengan Segala Bangsa" BUNG HATTA)

JAM GADANG BUKITTINGGI

(Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS 3:133-134))

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

LANDASAN MENIKAH

1. Jika landasan pernikahan adalah harta, maka pasangan bakal bercerai jika jatuh miskin.
2. Jika landasan pernikahan adalah kerana tubuh, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka berkerut atau badan sudah menjadi gendut.
3. Jika landasan pernikahan adalah anak, maka pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.
4. Jika landasan pernikahan adalah kepribadian, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.
5. Jika landasan pernikahan adalah cinta, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih, lagi pula manusia yang dicintai pasti mati.
6. Jika landasan pernikahan adalah ibadah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu kekal dan Mahapemberi hidup kepada makhlukNya. Allah mencintai hambanya melebihi seorang ibu mencintai bayinya.
7. Maka tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan itu durhaka kepada Allah. (Islampos.com)

Ulama Berkulit Domba Berhati Buas

oleh: Budi Ashari, Lc
Seorang penyair Andalus menjadi penyambung lisan masyarakat di zamannya. Lebih dikenal dengan Ibnu Al Bunni Al Jayyani, penyair yang menguntai kalimat “nyinyir” nya terhadap ulah para ahli ilmu agama. Imbasnya, pecahnya Andalus menjadi negeri-negeri kerdil.
Hari orang-orang riya’, kalian kenakan pakaian malaikat kalian
Seperti serigala yang mengendap di malam kelam
Kalian kuasai dunia dengan Madzhab Malik
Kalian bagi-bagi uang dengan Ibnu Qosim
Kalian kendarai kemewahan Bighol dengan Asyhab
Dan dengan Ashbagh kalian warnai dunia untuk kalian
Mungkin sulit memahami syair ini.
Berikut penjelasan singkatnya:
Para ahli ilmu hari itu di Andalus bermadzhab Maliki. Atas nama ilmu, mereka menguasai dunia. Mengumpulkan uang, mengendarai kendaraan mewah dan memonopoli warna keadaan dengan dalih kitab-kitab Ibnu Qosim, Asyhab dan Ashbagh, para ulama besar madzhab Maliki.
Atas nama agama, para pemilik ilmu sibuk dengan kepentingan pribadi yang disembunyikan.; Andalus hancur berkeping-keping.
Dengarkan bahasa lugas Imam Ibnu Hazm, ulama kebangkitan Andalus –rahimahullah-:
“Dan janganlah kalian tertipu oleh orang-orang fasik yang menisbatkan dirinya kepada ilmu fikih, yang memakai kulit domba padahal hatinya binatang buas, yang menghiasi keburukan bagi para pelaku keburukan, menolong kefasikan mereka.
Jalan kita untuk selamat dari ini adalah menahan lisan kuat-kuat kecuali dari amar ma’ruf dan nahi mungkar.” (Ibnu Hazm)
Dan DR. Ali Ash Shalabi membuatkan kaidah untuk kita:
“Tak diragukan, bahwa hidupnya umat ini dengan hidupnya para ulama. Merekalah mahkota umat dan menaranya. Merekalah ruh dan sumber kehidupannya.
Sepanjang ulama umat ini di atas manhaj Allah, maka urusan umat ini berada di jalan menuju kemuliaan, ketinggian dan kehormatan.
Dan sepanjang ulama ini jauh dari Allah, jiwa mereka berat ke bumi dan ambisius terhadap kepentingan pribadi, maka reduplah cahaya umat dan umat ini akan dirayapi oleh kelemahan dan kebodohan.”
Ya Allah, jaga umat Nabi Mu ini...

SUNGGUH, JIKA ANDA MEMBACA ARTIKEL KALI INI, ANDA AKAN BERKATA, "MASYA ALLAH, LUARRR BIASAAAA............!!!!!!!!

Sariaklaweh.blogspot.com:--Ibnu 'Amr Ad Dimakiy dari ustadz 'Abdullah Zaidi bercerita kepadaku...
"Anta tau tidak kalau ada satu suku yang sangat disegani oleh masyaikh saudi, namun berasal dari luar As Su'udiyyah?"


"Suku apa itu ustadz?"

"Pernah dengar Mauritaniyyah?"

"Belum ustadz, kenapa mereka disegani ustadz?"

"Karena kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu yang sangat luar biasa... Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum hafal qur'an itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya... Bahkan 7 dari 13 doktor di MEDIU berasal dari Mauritaniyyah."

Anak-anak suku Mauritania menunjukkan catatannya
yang ditulis di kayu "Lawhah"

"Masya Allah, bagaimana sistem pengajaran mereka...???

"Pertanyaan anta jamil... memang kita bukan hanya harus takjub, tapi kita harus meniru sistem yang mereka gunakan. jadi begini akhi...

Mereka itu mendapatkan pendidikan Al Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak BAYI...

Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu HANYA tidur di kasur. ibu tersebut akan MENYIBUKKAN DIRI untuk MUROJA'AH HAFALANNYA hingga ibu itu TERASA LETIH karenanya...

Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah. Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka DIWAJIBKAN untuk dia muroja'ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya ya itulah tantangan untuk anak tersebut..."

"Masya Allah, lalu sistem ketika menginjak remaja gimana ustadz?"

"Ahsanta, ketika mereka berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. mereka TIDAK BELAJAR DI DALAM KELAS. Jadi para masyaikh setempat MEMBUAT TENDA DI TENGAH GURUN, dan di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan... Mungkin dalam fikiran kita menyakitkan karena panasnya. namun itu NIKMAT untuk mereka karena RASA INGIN TAU YANG TINGGI pada diri mereka menjadikan SEDIKIT 'ILMU adalah NIKMAT DAN RIZQI YANG MELIMPAH UNTUK MEREKA, BUKAN HARTA...!!!"

"Masya Allah... Masya Allah Yaa Ustadz..."

"Na'am, ketika syaikh tersebut berkata, "ISTAMI'...!!!", maka semuanya menatap syaikh tersebut dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan BERMAIN PULPEN, karena akan dimarahi...


Setelah syaikhnya menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis. Mereka menulispun juga BUKAN di selembar kertas. Mereka menulis di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah, kenapa tidak pakai kertas? karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa selembar saja...
Setelah mereka menulis maka tulisan mereka yang berasal dari ingatan mer
Masya Allah... Ketika semua santrinya telah menuliskan dengan benar maka syaikh memerintahkan untuk dihapus..."
eka itu ditunjukkan ke syaikh, kalau ada kesalahan maka akan dikembalikan untuk dibetulkan hingga semua santrinya menuliskan semua yang diucapkan syaikh... Itu menunjukkan SYAIKH TERSEBUT HAFAL APA YANG DIUCAPKAN.

"Dihapus ustadz...??? Lalu mereka tidak punya catatan pelajaran hari itu dong?"

"Laa yaa akhi, ketika semuanya sudah benar itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh syaikh sudah HAFAL DI LUAR KEPALA. Jadi catatan mereka ya ingatan mereka itu... Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka syaikh melanjutkan pelajarannya... Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang mereka INGAT mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka...

Di usia 17 tahun, mereka sudah bisa mengeluarkan fatwa, yang berarti mereka sudah menjadi MUFTI..."
Belajar dengan hafalan dan mencatat di kayu

"Masya Allah, merinding ana ustadz..."

"Jamil... Dulu ketika ana di LIPIA ada cerita menarik, dosen ana ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2, karena apa?
Karena ikhwan ini sudah hafal kutubus sittah, bulughul marom, shohihain, dan sekarang sedang menghafal musnad imam ahmad dan sudah hafal 2/3 nya... Anta tau kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa??? itu hanya masih tebalnya, belum isi dari kitab tersebut... BERAPA BANYAK HADITS YANG TERDAPAT DI KITAB ITU? Masya Allah.

Dan yang akan lebih mengherankan anta adalah, MEREKA BUKAN HANYA HAFAL MATAN HADITSNYA... NAMUN SAMPAI KE RIJALUL HADITS, PERAWI INI LAHIR TAHUN SEKIAN, MENINGGAL TAHUN SEKIAN, MENGAMBIL HADITS DARI SIAPA SAJA, DINYATAKAN TSIQAH ATAU TIDAK OLEH 'ULAMA, HINGGA DIA BISA MENENTUKAN SENDIRI SANAD HADITS TERSEBUT SHAHIH ATAU TIDAK TANPA MENCATUT PERKATAAN SEORANG MUHADDITS SEPERTI SYAIKH ALBANI KALAU HADITS TERSEBUT SHAHIH..."

"Masya Allah, merasa tidak punya apa-apa ustadz ketika menyadari di belahan bumi lain ada yang mempelajari agama hingga seperti itu..."

"Na'am, ana pun demikian... kalau anta ingat, USTADZ ERWANDI TARMIDZI pernah bilang seperti ini : "Janganlah kalian bangga ketika sudah hafal al qur'an, karena memang itu belum ada apa-apanya di kalangan penuntut 'ilmu, dan janganlah kalian bangga ketika sudah hafal hadits arbain, karena itu sudah sangat lazim di kalangan penuntut 'ilmu, janganlah kalian menjadi sombong dengan sedikitnya 'ilmu yang kalian miliki... karena bukannya 'ilmu itu akan bertambah malah bisa jadi akan berkurang. hafal qur'an hanyalah pintu untuk antum memasuki dunia para 'ulama, hadits arbain hanyalah dasar pijakan pertama antum memasuki dunia para 'ulama, namun kalian belum pantas disebut 'ulama..."

Perpustakaan kuno di Syinqith (Chinguetti)

"Masya Allah, banyak faidah dari obrolan ini ustadz..."

"Jamil, makna dari zuhud itu apa? Al Faqir Wal Masakin kah? Atau seperti apa menurut anta?"

"Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang ditanya ustadz..."

"Ahsanta, Barakallahu fiik, zuhud adalah ketika kita mampu meninggalkan apa-apa saja yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, al mislu: nonton YKS bermanfaat tidak untuk kehidupan akhirat kita?"

"Tidak ustadz."

"Jamil, maka tinggalkanlah hal yang serupa dengan itu dalam urusan duniawi kita kalau tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita... Itulah zuhud."

"Ahsanta, lalu kenapa 'ulama dari mauritaniyyah tidak terkenal ustadz?"

"Karena kebiasaan mereka... Mereka lebih disibukkan untuk belajar dan mengajar. Tidak ada yang namanya safari dakwah atau khuruj ke suatu tempat dan yang semisalnya... Kalau kita butuh beliau, ya kita yang mengunjungi beliau... Sebenarnya banyak 'ulama dari mauritaniyyah, coba saja cari 'ulama yang berakhiran "ASY SYINQITHI". Mereka adalah hasil didikan adat menuntut 'ilmu ala mauritaniyyah..."

"Syukran atas tadzkirahnya ustadz."

"'Afwan, sebenarnya ana juga sedang muhasabah diri, kalau diri kita belum dididik dengan sistem seperti itu, berarti tugas kita untuk mendidik anak cucu kita dengan sistem yang mereka miliki..."

Ulama Ahlus sunnah Sheikh Abdullah Bin Bayyah – Mauritania,
salah satu pengajar di Universitas King Abdu l Aziz University – Saudi Arabia,
beliau bermazhab Maliki
sumber Nafas Diri

FP: Media Dakwah

BERHAJI TAMPA PAHALA

Sariaklaweh.blogspot.com:--Seorang laki-laki mengunjungi Bisyr Ibn al-Harits untuk berpamitan haji. Ia berkata, “Aku berniat pergi haji. Adakah sesuatu yang hendak Anda perintahkan kepadaku untuk dikerjakan?”

“Berapa banyak yang Anda sediakan untuk bekal?” tanya Bisyr.

“Dua ribu dirham.”

“Apa yang menjadi tujuan Anda berangkat haji kali ini? Apakah karena zuhud terhadap dunia, atau untuk melepas kerinduan kepada Baitullah, ataukah demi meraih keridhaan-Nya?”

“Demi meraih ridha Allah,” kata laki-laki itu mantap.

“Sekiranya Anda dapat meraih keridhaan Allah, sementara Anda tetap tingal di rumah Anda, dengan menginfakkan dua ribu dirham, dan Anda merasa yakin akan meraihnya, apakah Anda bersedia melakukannya?” tanya Bisyr.

“Ya.”

“Kalau begitu, pergilah dan berikanlah uang Anda itu untuk menolong sepuluh jiwa; seorang yang terbebani hutang, agar ia membayar hutangnya dengan harta yang engkau berikan; seorang miskin, agar ia dapat memperbaiki keadaannya; seorang kepala keluarga yang dibebani banyak anak; dan seorang pengasuh anak yatim, agar dapat menggembirakan si yatim yang diasuhnya. Sekiranya hati Anda cukup kuat untuk memberikan uang itu kepada satu orang saja di antara mereka, lakukanlah! Sungguh, perbuatan Anda mendatangkan kegembiraan di hati seorang Muslim, menolong orang yang dalam penderitaan, membantunya keluar dari kesusahannya dan menolong orang yang lemah; semua itu jauh lebih utama daripada ibadah haji seratus kali, setelah hajjatul Islam (haji yang diwajibkan sekali seumur hidup).”

Bisyr Ibn al-Harits kemudian berkata, “Kini pergilah dan infakkanlah uang bekal Anda itu, sebagaimana telah kuperintahkan kepada Anda. Atau, kalau tidak, ungkapkanlah isi hati Anda sekarang juga!”

Laki-laki itu termenung sebentar, lalu berkata, “Wahai Abu Nashr (nama panggilan Bisyr Ibn al-Harits), niat kepergianku berhaji tetap lebih kuat dalam hatiku.”

Mendengar jawaban itu, Bisyr (rahimahullah) tersenyum dan berkata kepadanya, “Memang, apabila harta diperoleh melalui kotoran perdagangan atau syubhat, tertariklah hati untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dengan menampakkan dan menonjolkan amal-amal saleh (agar dapat diketahui oleh orang banyak). Sedangkan Allah Swt telah bersumpah demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia tidak akan menerima amalan selain amalan orang-orang yang bertakwa.”

Seperti laki-laki yang datang menemui Bisyr Ibn al-Harits, banyak di antara kita yang berulang kali menunaikan ibadah haji setelah hajjatul-Islam. Mereka berangkat haji bukanlah karena mencari ridha Allah, tetapi hanya untuk mengobati jiwanya yang gersang. Mereka ingin mendapatkan pengalaman eksotis dengan menangis di tanah suci, lalu mengira bahwa yang demikian itu merupakan pencerahan ruhani. Mereka menghabiskan uang yang sangat besar jumlahnya, sementara banyak urusan kaum Muslimin yang tidak bisa berjalan karena tak ada dana yang bisa menopang.

Lebih mengenaskan lagi, ada yang menunaikan hajjatul-Islam, tetapi sebenarnya mereka belum terkenai kewajiban. Mereka berangkat ke Tanah Suci, tetapi tangannya terkotori oleh harta yang sebenarnya merupakan hak dari orang-orang yang menjadi tanggungannya, misalnya orangtuanya yang miskin. Alhasil, ia berangkat ke Tanah Suci dengan airmata. Bukan karena haru, tetapi airmata kesedihan pengantarnya karena ada yang terbengkalai, tidak terurusi. Mereka inilah yang menangis di Tanah Suci, tetapi kembali dengan jiwa yang gersang dan hati yang kosong.

Saya teringat dengan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Shahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini pernah berkata, “Di akhir zaman akan bertambah banyak orang yang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka, dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh ontanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan.”


*****
Semoga renungan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon ampun. Dan kepada saudara-saudaraku seiman, saya memohon nasehat.

Selebihnya, saya tetap perlu mengingatkan agar tidak mudah pula menuding mereka yang berhaji untuk kesekian kali sebagai perjalanan yang sia-sia. Andaikata ada di antara tetangga kita yang tak peduli pada urusan ummat ini, bahkan tak mau berbagi kepada tetangganya, sesungguhnya ia memiliki hak atas kita untuk kita ingatkan dan kita beri nasehat. Di luar itu, ada orang-orang yang berulang kali melakukan perjalanan ‘ibadah haji, dan ia pun banyak membelanjakan hartanya untuk menegakkan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi, membiayai proyek-proyek amal shalih dan menyantuni fakir miskin. Maka kita do’akan ia semoga Allah Ta’ala menerima ‘ibadah dan amal shalihnya. Allahumma amin.

Wallahu a'lam bish-shawab. Wallahul musta'an.

Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim


Carilah Barokah, Bukan Sekedar Mesra


Apakah yang paling penting untuk kita cari dalam pernikahan? Dialah barakah. Hadirnya barakah menjadikan pernikahan berlimpah kebaikan. Barakah itu pula yang perlu senantiasa kita jaga dalam pernikahan. Hilang barakah, hilanglah kebaikan atas apa yang ada dalam pernikahan.

Bagaimanakah kita menjaganya? Menjaga, menata dan memperbaiki niat yang darinya mempengaruhi tujuan pernikahan serta menjaga diri. Pada saat yang sama kita menjaga dari memimpikan hal yang tidak penting. Pergi ke luar negeri tak perlu jadi obsesi sehingga segala daya dikerahkan hanya untuk berkunjung ke negeri orang. Hanya tiga tempat yang layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk mendatanginya, yakni Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di luar itu, jika memang ada rezeki atau memang ada keperluan, negeri seberang yang berbatasan ataupun yang berbeda benua, bukanlah tempat yang terlalu jauh.
Terlarang mengunjungi negeri-negeri yang berbeda? Tidak. Terlarang mengingini bepergian ke negeri lain? Juga tidak. Terlebih jika ada manfaatnya atau dalam rangka amal shalih. Tetapi janganlah ia menjadi obsesi dan hal paling membanggakan.

Sesungguhnya perusak agama itu cuma dua, yakni fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Maka, dua hal itu pula yang perlu kita jauhi. Apa hubungan fitnah syubhat dan syahwat dengan menjaga barakah dalam pernikahan? Fitnah syahwat melalaikan tujuan sehingga niat keruh.

Belasan atau puluhan tahun menikah pun, kita perlu senantiasa menjaga niat memperbaiki tujuan (O Allah, jaga pernikahan kami dan selamatkanlah dari fitnah).

Jika fitnah syahwat sudah menerpa, awalnya mungkin hanya soal harta atau kuasa, tapi ia dikejar karena tergila padanya, maka tak aneh jika ia berubah menjadi mudah tergoda oleh rupa. Awalnya nikah karena dakwah, lalu runtuh begitu saja (semoga kita terhindar darinya).

Sangat berbeda seseorang yang melangkah karena alasan agama (cerai, pisah sesaat atau pun menikah lagi) dengan yang disebabkan fitnah syahwat. Jika karena sebab syahwat dunia seseorang berpaling dari istri yang ia nikahi sungguh-sungguh karena alasan agama, maka bukan aneh keburukan mendekat kepadanya sementara kebaikan semakin sulit ia raih. Inilah yang perlu kita khawatiri dalam pernikahan.

Bagaimana dengan fitnah syubhat? Ia menghancurkan pemikiran, keyakinan, iman dan bahkan aqidah. Ini pun turut mempengaruhi pernikahan.

DAKWAH KREATIF KOMIK OM HAJI

Sariaklaweh.blogspot.com:--“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka ke (jalan) Rabb-mu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb”. [Al Qashshash:87].









sumber: facebook

KUMPULAN ARTIKEL RAMADHAN

Sariaklaweh.blogspot.com:--Berikut ini kami ringkaskan kumpulan artikel Ramadhan yang ada di muslim.or.id yang dikelompokan menjadi beberapa kategori. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian, sebagai nasehat, renungan, panduan ibadah, selama menjalani bulan Ramadhan nan penuh berkah ini.


Renungan Ramadhan

Ru’yah Hilal

Panduan Puasa

Panduan Tarawih

Qadha dan Fidyah

Sedekah Di Bulan Ramadhan

Lailatul Qadar, I’tikaf dan Nuzulul Qur’an

Kekeliruan Seputar Ramadhan

Fatawa Ramadhan

Silsilah Kajian Ramadhan